Tsunami Buat Wabah Penyakit Jamur di Indonesia

Tsunami buat wabah penyakit jamur

Musibah tsunami diprediksi menyebarkan penyakit jamur yang mematikan. Para ilmuwan juga takut wabah tersebut terjalin di Indpnesia. Akibat Tsunami buat wabah penyakit jamur jadi faktor penelitian utama.

Dikutip dari BBC Indonesia, Rabu( 2/ 10/ 2019), para ilmuwan takut wabah jamur yang terjalin di Alaska pada 1964 pula hendak menyerang kawasan di Indonesia yang tersapu tsunami.

Mereka mengatakan kalau gempa besar dahsyat yang menyerang Alaska pada dikala itu merangsang tsunami yang ikut mendaratkan jamur tropis mematikan. Para periset meyakini jamur tersebut setelah itu berevolusi buat tumbuh biak di kawasan tepi laut serta hutan Pasifik Barat Laut.

Dilaporkan, lebih dari 300 orang terinfeksi penyakit kriptokokosis, mirip pneumonia, semenjak permasalahan awal ditemui di kawasan tersebut pada 1999, yang dekat 10%- nya berujung parah. Bila teori yang diterbitkan dalam harian mBio benar terdapatnya, akibat yang sama dapat menggapai kawasan lain yang bersama sempat tersapu tsunami.

Cryptococcus Gattii merupakan jamur patogen yang sebagian besar timbul di kawasan bersuhu lebih hangat di dunia, semacam Australia, Papua Nugini, dan sebagian Eropa, Afrika, serta Amerika Selatan, semacam Brasil. Para periset berteori kalau jamur itu sudah terbawa ke segala dunia lewat air pemberat( ballast water) yang digunakan kapal- kapal.

Para ilmuwan berkata kalau umur molekuler jamur yang ditemui di tepi laut British Columbia serta negeri bagian Washington, Amerika Serikat, diawali pada waktu yang bersamaan dengan dimulainya pelayaran dari bermacam pelabuhan di Amerika Selatan sehabis pembukaan Terusan Panama tahun 1914.

Walaupun demikian, keingintahuan yang besar terpaut jamur judi via pulsa tersebut baru timbul kala permasalahan peradangan terhadap manusia awal kali ditemukan di kawasan itu pada 1999.

Para periset awal mulanya kebimbangan, gimana penyakit itu dapat melanda orang- orang di kawasan tersebut. Sebab dalam keadaan yang wajar, peradangan tersebut biasanya bermula dengan menghisap spora yang membolehkan patogen itu menetap di dalam paru- paru.

Dalam riset terkini ini, 2 orang ilmuwan menguraikan uraian baru tentang gimana jamur mematikan itu dapat tersebar luas di hutan yang dekat dengan tepi laut di sejauh daerah Pasifik Barat Laut.

Mereka berkata kalau Gempa Bumi Besar Alaska, dengan kekokohan 9, 2 magnitudo pada 1964, memainkan kedudukan kunci. Bagaikan salah satu gempa bumi terbanyak yang sempat tercatat di belahan bumi bagian utara, gempa yang mengguncang Alaska bagian tenggara itu memunculkan tsunami di sejauh garis tepi laut kawasan tersebut, tercantum Pulau Vancouver, demikian pula di Washington serta Oregon, AS.

Periset berkata, qir dari tsunami itu lalu bawa jamur itu ke daratan. Jamur itu setelah itu menjajah tanah serta pepohonan setempat, serta terpapar dengan proses pilih hayati serta raga yang malah tingkatkan energi tular serta dosis racunnya. Maka Tsunami buat wabah penyakit jamur di Indonesia.

” Kami mengajukan gagasan kalau C. gattii bisa jadi kehabisan banyak kapasitas infeksinya terhadap manusia kala dia hidup di air laut,” kata salah satu penulis riset itu, Dokter Arturo Casadevall, dari Universitas Johns Hopkins di Maryland, AS.

” Tetapi setelah itu kala dia hingga di tanah, amuba serta organisme tanah yang lain memproses jamur tersebut sepanjang 3 dekade ataupun lebih sampai timbul jamur C. gattii tipe baru yang bertabiat jauh lebih patogen terhadap hewan serta manusia.”

Para periset berkata kalau air bah dari tsunami dikenal bawa dan jamur beresiko. Mereka menampilkan fakta berbentuk peradangan kulit serta paru yang invasif pada korban. Mereka pula takut di masa mendatang, peradangan seragam yang disebabkan tsunami serta gempa bumi pula terjalin di Indonesia serta Jepang.

” Gagasan baru nan besar di mari ialah tsunami dapat jadi mekanisme berarti di mana patogen menyebar dari lautan serta mulut sungai ke daratan, serta pada kesimpulannya ke hewan serta manusia,” ucap Dokter Casadevall.

Dia melanjutkan, bila hipotesis itu benar, terdapat mungkin wabah C. gattii hendak terjalin di kawasan Indonesia yang sempat tersapu tsunami pada 2004 ataupun tsunami Jepang yang terjalin pada 2011.